hi bloggie..
i have finished my 28 days in my internship location.. so i wanna share u about our(me n my group) reflection after did my 28 days internship…
we should make reflection from those 28 days..
n these are the reflection
(no edit) in Bahasa…
REFLEKSI KELOMPOK 5
Yuniar Kris Santoso/ 07 03 16577
Hari pertama Saya berangkat dengan hati senang dan gembira menuju Merapi, dengan penuh semangat Saya bersama teman – teman mengikuti kegiatan KKN. Dalam perjalanan menuju lokasi pembangunan rumah pertama Saya melihat hal – hal yang menakjubkan, terlihat begitu dahsyatnya dampak yang ditimbulkan oleh erupsi Merapi, rumah yang rata tertimbun oleh abu vulkanik, rumah – rumah yang hancur akibat semburan awan panas, seketika itu Saya bersyukur karena tidak terkena dampak erupsi hingga sedahsyat itu. Dalam perjalanan Saya selama KKN di Merapi Saya mencoba memposisikan diri Saya bila pada saat kejadian Saya berada disana, begitu mencekam dan mengerikan.
Selama KKN ini Saya bersyukur dapat membantu Mbah Kromowiyono, Mbah Temowiyono, dan Mbak Darwanti untuk membangun rumah sebagai tempat tinggal sementara mereka, sehingga mereka dapat kembali melakukan kegiatannya seperti dulu.
Persahabatan menjadi semakin erat dengan teman – teman KKN, tim SKM, teman menjadi lebih banyak dan saling berbagi pengalaman ketika bersama – sama di Merapi sungguh tak terlupa. Sebuah keputusan yang terbaik telah mengikuti KKN Tematik “Peduli Merapi”
Christine Natalia/ 07 07 05393
KKN Tematik “Peduli Bencana Merapi” yang di selenggarakan oleh pihak LPPM Universitas Atma Jaya Yogyakarta pada tanggal 1 Februari 2011 sampai dengan tanggal 28 Februari 2011 memberikan banyak kesan, pesan, suka dan duka selama saya menjalaninya. Saya begitu bersemangat dalam menjalani KKN Tematik ini, karena sebelumnya saya sempat tidak di terima dalam KKN Tematik “Peduli Bencana Merapi” ini, tp mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada saya melalui KKN Tematik ini akhirnya saya bisa keterima karena ada yang mengundurkan diri. Kesempatan ini tidak saya sia-sia kan, karena bagi saya ini merupakan suatu kesempatan bagi saya untuk terjun langsung membantu para korban erupsi Gunung Merapi secara langsung. Sebelum kami terjun langsung ke lokasi, kami di haruskan untuk melakukan survey. Survey yang kami lakukan adalah di daerah Pangukrejo, pada saat melakukan survey saya sangat sedih dan shock melihat lokasi dan keadaan para korban erupsi. Lokasinya begitu gersang, masih banyak abu dan pasir, pohon-pohon pada tumbang, dan banyak rumah-rumah warga yang hancur. Dan satu hal yang membuat saya sedih adalah banyak warga yang ada hanya untuk foto-foto saja. Hal ini membuat saya semakin bersemangat untuk membantu para korban bencana merapi dalam pembuatan hunian sementara bagi para korban bencana merapi yang sudah bekerja sama dengan orang SKM dan LPPM Atma Jaya Yogyakarta. Selama sebulan ini kami membantu Mbah Kromowiyono, Mbah Temowiyono dan Mbak Darwanti untuk membuat hunian sebagai tempat hunian sementara. Dalam pengerjaan setiap hunian rumah kami beradaptasi dengan para tukang dan pemilik rumah. Kami mengerjakan rumah dengan suka cita di bantu dengan kelompok 6 sehingga pekerjaan rumah tersebut bisa selesai melebihi target yang ada, karena pekerjaan tersebut menjadi lebih ringan walaupun pada hari pertama dan kedua badan menjadi pegal-pegal dan juga cuaca yang tidak menentu membuat tubuh menjadi kurang fit, selain itu juga akses jalan ke lokasi yang kurang bagus terutama yang di Kali Tengah Kidul. Selain mengerjakan kegiatan fisik, kami juga melakukan kegiatan non fisik yaitu ramah tamah dengan pemilik rumah yang akan di bangun. Sungguh sedih mendengar cerita para pemilik rumah seperti Mbah Kromowiyono dan mbah Temowiyono yang kehilangan anaknya dan Mbak Darwanti yang kehilangan suaminya, selain kehilangan sanak saudara para korban erupsi juga kehilangan mata pencaharian dan juga ternak akibat erupsi merapi. Dan sampai saat ini bantuan dari pemerintah masih belum turun sepenuhnya. Semoga dengan adanya bantuan dari pihak Atma Jaya yang bekerja sama dengan SKM Gereja Pakem dapat berguna bagi para korban erupsi merapi, dan semoga semakin banyak orang yang tergerak hatinya untuk membantu para korban erupsi merapi.
Bernardus Welliken / 04 05 08895
Pengalaman yang saya dapatkan selama mengikuti KKN Relawan Peduli Bencana Merapi adalah pertama saya bertemu dengan teman teman baru yang berasal dari berbeda fakultas. Saya mengikuti KKN Relawan Peduli Bencana Merapi karena saya juga ingin dapat membantu para korban benacana merapi. Saya mengikuti KKN juga merupakan salah mata kuliah syarat untuk mahasiswa semester akhir. Saya dapat bisa berkerja sama dengan teman teman yang baru saya kenal untuk berkerja sama dalam kelompok menjalankan program pembangunan rumah bagi para korban bencana merapi. Disana saya dapat melihat langsung bagaimana rumah para korban bencana merapi telah rata dengan tanah akibat bencana erupsi merapi.
Dari KKN ini saya juga jadi mengerti bagaimana keadaan para korban bencana merapi yang tidak lagi memiliki tempat tinggal yang di terjang oleh awan panas merapi. Kami dari kelompok 5 dan 6 pertama di tempatkan di padukuhan Pangukrejo kemudian kami pindahkan ke padukuhan Kali Tengah Kidul yang terakhir kami di pindahkan ke padukuhan Pusmalang, WukirSari. Dari beberapa tempat tersebut saya melihat bagaimana keadaan para korban bencana merapi. Di padukuhan Pangukrejo hampir seluruh rumah yang di padukuhan tersebut terkena awan panas, di padukuhan Kali Tengah Kidul hampir semua rumah rata tanah dengan tanah karena terkena awan panas merapi, tetapi di padukuhan Pusmalang tidak terkena awan panas karena tempat tersebut merupakan tempat yang aman dan di jadikan rumah bagi para korban bencana yang rumah termasuk dalam kawasan rawan bencana sehingga tidak dapat membangun rumah mereka kembali di tanah yang tempat mereka tinggal sebelumnya.
Selama mengikuti KKN ini saya jadi mengerti bagaimana rasanya susah membantu para korban bencana yang kehilangan tempat tinggal. Saya juga jadi mengerti berkerja sama dalam kelompok untuk membantu sesama agar mendapatkan hasil sesuai yang di targetkan. Dari KKN ini saya jadi lebih mengerti bagaimana cara kita untuk bersosialisasi dengan masyarakat yang sedang terkena musibah. Demikian refleksi yang saya dapatkan selama mengikuti KKN Relawan Peduli Bencana Merapi
Yohanes Brian Pramudya / 07 01 12697
Tidak banyak hal yang dapat saya lakukan saat merapi mengalami erupsi maupun saat berstatus awas, hal tersebutlah yang melatarbelakangi saya untuk mengikuti kegiatn KKN Merapi, oleh karena itu saya sangat berterimakasih kepada UAJY yang telah menyelenggarakan KKN ini.
Banyak kendala yang dihadapi saat melaksanakan program kerja KKN Merapi, mulai dari kendala cuaca, bahasa, hingga koordinasi yang buruk, namun karena niat awal saya adalah membanu sesame yang sedang mengalami musibah maka kendala tersebut tidak terlalu menjadi beban bagi sayaa untuk merampungkan program kerja tersebut.
Banyak hal yang saya peroleh dari mengikuti kegiatan KKN ini, mulai dari menumbuh kembangkan sisi kemanusiaan, bekerja sama dalam sebuah tim, hubungan sosial dengan warga, dan dapat mempraktekkan dan membandingkan teori – teori yang diperoleh selama masa kuliah dengan keadaan dan kenyataan di lapangan.
Hidup di dunia ini merupakan suatu sistem yang kompleks, jalinan hubungan dengan manusia, jalinan hubungan dengan alam, dan jalinan hubungan dengan makhluk ciptaan-Nya yang lain. Mampu menjalin sistem kompleks tersebut berarti kita dapat memahami kehadiran kita di dunia ini, yaitu mempertahankan keberadaan mereka.
Onang Feri Prastio/ 06 07 05024
Banyak manfaat, pengalaman dan kesan yang saya peroleh ketika saya mengikuti KKN tematik peduli bencana merapi. Sebelum di terjunkan di lokasi merapi di daerah padukuhan pangukrejo saya tidak ada gambaran tentang keadaan lokasi disana. karena ketika pertama kali saya survey ke lokasi bencana saya kaget dan mengelus dada dengan keadaan wilayah sekitar lereng merapi yang sangat mengenaskan, tak ada pepohonan yang hidup dan tak ada rumah-rumah penduduk sekitar lereng merapi yang masih berdiri kokoh. Berarti begitu dasyat awan panas yang si sebabkan oleh erupsi merapi pada akhir tahun 2010 kemarin.
Pelajaran yang bisa saya ambil ketika mengikuti KKN tematik peduli merapi pada tanggal 1 februari sampai 28 februari 201, salah satunya adalah bisa mengerti dan memahami betapa menderitanya keadaan masyaratak korban bencana erupsi merapi terutapa orang-orang yang saya bantu untuk membangun rumahnya kembali seperti mbah Tomowiyono, Kromowiyono dan ibu darwanti. Serta merasa senang bisa belajar berkerja sama dengan teman-teman kelompok 5 yaitu kris, bryan, cristin dan bernadus. Saya juga bisa bekerja sama dengan kelompok 6 yaitu Kiky Natalia, Thomas, Selgi, Edo, dan Wawan. Sangat menyenangkan bisa bekerja sama dengan kelompok 6, rasa kebersamaan dan kekeluargaan pun timbul bersama peserta KKN tematik peduli bencana gunung Merapi terutama kelompok 5 dan 6. Tak lupa pula juga mendapat pelajaran dari pak Kabul sebagai koordinasi lapangan, saya bisa mengerti bagai mana membangun sebuah rumah sederhana dan memanagemen pengeluan untuk membuat sebuah rumah yang sederhana. Ini bisa menjadi modal saya pribadai apabila kelak nanti saya akan membuat rumah yang sederhana. mas Fembri sebagai koordinator posko Sumur Kitiran Mas(SKM) juga memberikan pengalaman bagai mana pekerjaan itu di bagi antar kelompok dan tidak bekerja sendiri, karena rumah yang saya bangun adalah hasil dari kerjasama semua pihak dan kelompok.
Ternyata terasa sangat cepat apabila pekerjaan yang sangat berat ini dikerjakan dengan rasa cinta, sepenuh hati dan rasa kebersamaan antar kelompok. Padahal awal-awal saya merasa ragu dan tidak yakin bisa menjalankan kkn tematik peduli merapi ini dengan lancar disamping karena perjalanan yang jauh karena semua peserta harus berangkat pagi dan pulang sore dari merapi yang sanagt membuat fisik menjadi lelah dan capek, tetapi berkat dukungan teman-teman kelompok, bimbingan DPL, ADPL dan semua kalangan yang terlibat dalam pelaksanaan KKN tematik Peduli bencana Merapi saya merasa percaya diri untuk melanjutkanya dan membuktikan bahwa saya bisa.
REFLEKSI KELOMPOK 6
Kiky Natalia/ 07 12 16568
Salah satu pilihan terbaik dalam kehidupan saya telah mengambil KKN Tematik “Peduli Merapi” di bulan Februati 2011. Secara keseluruhan saya merasa beruntung bisa berproses di KKN Tematik ini. Bisa mengecap kebaikan Tuhan dalam hidup saya, ketika saya melihat indahnya pemandangan alam di lereng Merapi, melihat betapa beruntungnya saya bisa melanjutkan pendidikan sampai di bangku kuliah seperti sekarang ini.
Sungguh hati saya bergetar ketika mendengar langsung cerita dari para janda korban erupsi Merapi. Saya berimajinasi jika saya berada disana saat kejadian itu, betapa “chaos”nya kondisi disana. Betapa mencekam kondisi disana, dan betapa pilunya hati ketika orang yang di sayang tak lagi tiada. Sungguh saya tak sanggup membayangkannya,ketakutan, kebingungan, dan kepanikan tentu menyergap. Diatas semuanya itu saya bersyukur buat semua yang Tuhan beri, dan saya percaya yang terbaik Tuhan sudah sediakan bagi kita semua. Saya percaya “God is Good all the time”.
Banyak proses yang saya alami dan nikmati selama pelaksanaan KKN ini. Banyak hal dan pembelajaran baru yang saya dapatkan selama KKN ini, pelajaran dalam membangun rumah, mengetahui system kinerja para tukang bangunan, penggunaan material, sirkulasi material, bahkan pelajaran berharga untuk lebih mengerti dan memahami sesama.
Banyak pelajaran hidup yang tidak saya dapatkan di bangku kuliah yang saya pelajari selama KKN ini. Pelajaran hidup yang tentunya berguna bagi kehidupan saya kelak, pelajaran untuk bisa berbesar hati menghadapi cobaan, seperti yang diteladankan oleh para janda yang kami bangunkan rumahnya (Simbah Kromo, Simbah Temo, dan Mbak Darwanti). Pelajaran hidup ini membuat saya lebih kuat dari sebelumnya dan memebentuk saya menjadi pribadi yang utuh, secara akademis dan secara emosional.
Saya juga sangat menikmati proses bersama kelompok saya dan kelompok 5 , sebagai satu team (kami bersama sejak awal pelaksaanaan hingga akhir). Keberagaman karakter yang ada menciptakan sebuah harmoni yang indah untuk dinikmati dan dipelajari. Tak ayal konflik pun pernah kami alami, ketika badan letih, dan kondisi badan sedang tidak fit. Namun semua bisa kami selesaikan dengan indah, sehingga semua masalah terselesaikan. Ada proses saling mengisi dan melengkapi satu sama lain. Ada proses belajar dari satu sama lain. Saya juga belajar dari rekan-rekan tim saya. saya belajar “sumeleh” dan lebih nyantai dari korpok saya , Wawan, saya belajar menghadapi masalah dengan bercanda dari rekan saya, Aan, saya belajar mengolah kata dengan baik seperti Selgi dan saya belajar ketenangan seperti air dari Edo.
Pada akhirnya saya bisa berkata, “When I found my self fading, I close my eyes and realize, my friends are my energy.” Saya bangga mengenal dan berproses bersama di KKN Tematik“Peduli Merapi” Februari 2011. Terima kasih buat semuanya, kalian menciptakan nada yang indah dalam kehidupan saya.
Selgy Mukti Aji / 07 09 03219
Tulisan ini merupakan refleksi saya ketika menjadi seorang relawan peduli bencana merapi yang mana merupakan kegiatan KKN UAJY semester genap 2010-2011. Menjadi suatu kebanggaan bagi saya sendiri ketika saya bisa menjadi seorang relawan membantu warga yang terkena korban bencana erupsi gunung Merapi. Banyak hal, pelajaran yang bisa saya ambil ketika saya berada di daerah ‘kritis’ tersebut. Kesabaran, kebersamaan, teamwork, dan banyak hal lainnya yang menjadi pelajaran bagi saya. Semua pelajaran ini menjadikan saya menjadi pribadi yang kuat. Satu hal lainnya yang dapat saya dalami adalah pelajaran mengenai cara bersyukur. Banyak warga disana termasuk orang yang kami bantu memiliki tekanan yang begitu dasyat dalam hidupnya. Mereka banyak kehilangan harta satu-satunya seperti hewan ternak, rumah, bahkan keluarga yang biasa menemani hidup mereka. Tetapi yang saya salut adalah kesabaran dan rasa bersyukur mereka terhadap Tuhan. Mereka tetap kuat dalam menghadapi cobaan yang sangat mengenaskan sekali bagi saya.
Keadaan di lokasi bencana memang sangat memilukan, semua bangunan yang ada hancur tanpa tersisakan. Hanya ada beberapa rumah yang masih tersisa dan itu berlokasikan agak jauh dari puncak gunung. Daerah yang saya datangi dan memang berkondisikan parah antara lain daerah padukuhan Pangukrejo dan padukuhan Kalitengah Kidul. Sekarang warga yang berada di lokasi tersebut tinggal di barak pengungsian yang dibuat oleh pemerintah serta relawan lainnya. Menyedihkan buat saya pribadi akan kondisi kehidupan mereka saat ini. Mereka hidup dibawah banyak tekanan yang mungkin buat saya hal itu membuat saya down.
Saya sangat berterimakasih sekali kepada UAJY yang telah menyelenggarakan kegiatan KKN relawan peduli bencana ini. Secara keseluruhan saya sangat puas mengikuti kegiatan KKN ini baik lahir maupun batin. Saya maupun kelompok telah mengikuti kegiatan KKN ini dari awal hingga selesai dengan baik tanpa ada konflik yang berkepanjangan. Secara pribadi saya juga berterima kasih kepada ADPL, DPL, dan kru relawan dari SKM lainnya yang telah membantu melancarkan kegiatan ini sehingga kami dapat menyelesaikan semuanya dengan baik.
Thomas Tri Anggono/ 07 01 12867
Awal mulanya sebelum saya memilih kkn tematik peduli merapi saya sempet ragu apakah saya mampu menjalaninya karena pulang pergi jogja-merapi anggapan saya capek diperjalanan. Setelah 1 minggu berlangsung ternyata cukup menyenangkan karena setelah dirasakan perjalanan merapi jogja tidak begitu capek.
Kkn tematik peduli merapi yang berlangsung dari tanggal 1 februari dan berakhir pada tanggal 28 februari banyak hal atau pelajaran yang bisa saya petik untuk dijadikan pengalaman hidup sebelum terjun langsung kemasyarakat. Hal-hal yang bisa diambil dari kkn tematik peduli merapi yaitu saya ikut terharu atas kejadian erupsi merapi banyak rumah yang hancur terlebih dilokasi kali tengah kidul karena lokasi sangat dekat dengan merapi, selain itu hidup dimasyarakat tidak mudah kita harus saling membantu terlebih bagi masyarakat/warga yang membutuhkan.
Kegiatan yang berlangsung selama tanggal 1 sampai tanggal 28 februari yakni membangun rumah dipangukrejo, kali tengah kidul, dan ukir sari. Kegiatan pada saat membangun rumah dipangukrejo dirumahnya mbah kromo, ada hal yang membuat saya sangat terharu dan sedih terlebih setelah beramah tamah dengan yang punya rumah, cerita atas kejadian pada saat erupsi merapi, kejadian pada saat dilokasi pengungsian yang sampai 3 kali berpindah tempat terus.
Pada kkn tematik peduli merapi ini kelompak saya yakni kelompok 6 sangat menyenangkan terlebih kelompok saya sudah kompak pada saat bekerja untuk membantu membangun rumah sehingga selama kkn saya tidak mengalami kejenuhan atau rasa capek karena dalam kelompok saya sering bercanda,Dalam membangun rumah dipangukrejo, kali tengah kidul dan ukir sari untuk membangun 1 rumah 2 kelompok.Kelompok yang bekerjasama dengan kelompok saya yakni kelompok 5 dimana kelompok 5 orang-orang nya asyik seperti brian,onang, kris, ambon dan kristin yang bisa diajak kerjasama, sehingga kelompok saya dengan kelompok 5 untuk membangun 1 rumah berjalan dengan cepat karena semua pekerjaan terkoordinasi dengan baik.
Untuk adpl dan dpl pada kkn tematik peduli merapi orang-orangnya baik, untuk adpl dalam lokasi lapangan sangat baik, Kkn tematik peduli merapi sudah selesai semoga dengan kkn yang sudah saya jalani selama sebulan dengan pengalaman yang sudah saya alami akan saya bawa pada saat saya terjun langsung kemasyarakat dalam hal bersosialisasi dengan warga.
Wawan Sri Wijanako / 06 06 05219
Pertama kali mengetahui berita mengenai dibukanya pendaftaran relawan merapi melalui mail list dari salah satu dosen Teknik Industri yaitu Bapak Hadi Santono, S.T., M.T. Beliau mengatakan bahwa akan dibuka pendaftaran relawan bagi mahasiswa aktif Universitas Atma Jaya Yogyakarta dan bagi yang mendaftar dianggap sudah mengambil KKN. Saya bersemangat sekali untuk mendapatkan informasi lebih lanjut di LPPM UAJY, ternyata pendaftarannya blm dibuka. Menurut informasi yang ada, ternyata pendaftaran relawan tersebut dibuka setelah pengambilan KRS, sehingga bagi mahasiswa yang mengambil KKN dan mendaftar KKN Tematik Bencana Merapi dianggap sebagai relawan.
Hari pertama kami diterjunkan ke lapangan, kami melihat hal yang sangat menyedihkan. Hampir seluruh rumah, kebun dan infrastruktur di daerah tujuan kami hancur dan rata dengan tanah. Saya tidak dapat membayangakan bagaimana kondisi penduduk pada saat terjadi erupsi merapi tangggal 26 dan 29 Oktober 2010. Harta benda berupa rumah, surat-surat berharga dan hewan ternak ditinggalkan bahkan banyak sanak saudara mereka yang tertinggal dan menjadi korban.
Banyak pelajaran yang dapat saya petik dari kegiatan KKN yang saya ikuti ini. Salah satunya adalah bagaimana bersabar dan bersyukur menghadapi cobaan dari Tuhan. Warga korban bencana merapi yang kami bantu mengaku mereka sangat bersabar dan bersyukur dalam tekanan yang terus berdatangan di dalam hidup mereka. Dari kehilangan harta sampai kehilangan anggota keluarga , mereka mencoba ikhlas dalam menghadapi hal itu semua. Saya sangat berterimakasih kepada teman-teman relawan KKN lainnya yang dapat bekerja sama dengan baik hingga akhirnya kita telah sampai dengan perpisahan dan melanjutkan hidup sendiri-sendiri. Saya juga berterimakasih sekali kepada UAJY yang telah mengadakan kegiatan KKN ini sehingga kami mendapatkan pelajaran hidup yang sangat berharga.
Eduardo Aji Pradana / 07 07 05215
“The end justifies the means,” frase ini saya pakai untuk menutup segala dinamika yang terjadi sepanjang KKN bulan Februari ini, terlepas dari pas atau tidaknya. Manusia dan peserta KKN yang merupakan makhluk yang mempunyai intensi selalu berhadapan dengan halangan. KKN adalah salah satu penampung yang di dalamnya selalu terdapat halangan, dan bagaimana kita menghadapinya, frase pembuka tadi bisa menggambarkannya. Terlepas dari baik dan buruknya, semua sudah terjadi! Kalau boleh saya menyebutkan sekali lagi dalam kutipan berbeda, “exitus acta probat”.
Saya tidak tahu harus mulai dari mana karena banyak hal yang berterbangan dalam benak saya yang ingin segera diceritakan, pun saya mulai ragu seperti apa refleksi ini seharusnya dibuat, bergaya ilmiah ataukah tidak apa menunjukkan letupan emosi. Terlebih karena refleksi memang dibuat dalam sudut pandang orang pertama, saya ragu apakah secara psikologis pembaca dapat mencerna semua refleksi ini dengan nyaman. Izinkan saya mengeluarkan apa yang saya simpan selama ini secara superior sama ketika kapan pun saya menulis.
Dimulai dari tanggal 1 Februari dan sehari sebelumnya, kami berboncengan melalui jalanan yang tidak pernah kulalui sebelumnya menuju lokasi KKN, desa Pangukrejo namanya, ditempuh sekitar 1 jam dari kampus Babarsari. Lokasi ini jelas bukan Terra Promissa, Tanah yang dijanjikan dalam Kitab Suci, tapi kami akan berada disini selama 28 hari untuk mengerjakan karya mulia. Hari itu panas dan terik, cuaca yang akan terus kami temui sepanjang KKN –dan harus bersabar karenanya.
Para penyumbang dermawan, LPPM UAJY, bersama dengan posko tanggap bencana Gereja Katolik Pakem yang menyebut dirinya Sumur Kitiran Mas (SKM) menggalang tenaga dan dana dalam program pekerjaan umum (PU) dalam menyukseskan niatan mulia ini. Dana yang besar dan materi penunjang yang mengalir dalam proyek ini juga tidak kecil. Belasan juta rupiah untuk satu rumah sederhana. Awalnya saya penasaran dengan bagaimana cara SKM, atau stakeholder lainnya menyeleksi korban calon penerima bantuan dari sekian ratus korban bencana Merapi. Rasa penasaran saya bertambah saat mengetahui hampir semua penerima bantuan beragama islam, sedangkan SKM ataupun UAJY mencerminkan Katolik. Akhirnya saya teringat kata-kata mendiang rektor pada periode sebelumnya, bahwa UAJY dituntut untuk menjadi humanis dan inklusif. Semangat yang sama juga ada pada ajaran katolik. Saya menjadi paham dan soal menanyakan bagaimana metode seleksinya sekarang menjadi tidak penting lagi.
Gersang berdebu, sepi, pohon dan bambu bengkok hangus terbakar dimana-mana, puing rumah di sepanjang rute desa menjadi pemandangan yang monoton. Hancur lebur desa ini, namun cakrawala jadi bisa terlihat tanpa halangan meskipun mirisnya gunung yang dulunya hijau sekarang menjadi berwarna coklat tanah. Kabarnya pengungsi masih tinggal di barak pengungsian selama berbulan-bulan. Saya cukup merasa terhenyuh mendengar itu. Membayangkannya seperti berbulan-bulan naik kapal laut di dek kelas ekonomi, yang seringnya kebanjiran.
Hidup memang seperti kapal laut, semuanya terombang-ambing, ada kelas ekonomi, bisnis, eksekutif. Orang desa seperti yang di Pangukrejo ini bukannya kelas ekonomi, mereka bisa masuk kelas eksekutif lho. Dari wawancara kami dengan pemilik rumah, dulunya ia memiliki sapi-sapi yang banyak. Sapi-sapi ini memang bukan uang, tapi kalau dijual, uangnya bukan main banyak. Bencana merapi terjadi dan menimpa keluarga ini, kelas mereka kini bisa dikatakan kelas ekonomi. Pekerjaan seadanya dikerjakan untuk menyambung hidup.
Meskipun yang terjadi memang pahit, saya tidak berpikir korban-korban ini terus-menerus terpuruk dalam penyesalan ataupun kesedihan. Mungkin dari kejadian epic ini mereka menjadi dapat melihat kebesaran Tuhan, dimana Tuhan sebagai par excellence sanggup mengambil dan memberi, menguatkan dan melemahkan. Ada sebuah paham fatalistik dari tradisi masyarakat Yudaistik bahwa orang yang terkena musibah pastilah adalah orang yang telah berdosa. Sebuah paham yang menurut saya jahat, terlebih ketika seseorang tidak mendapat musibah ia merasa benar dihadapan Allah. Entah apa yang menguatkan para korban ini. Saya lebih senang untuk menganggap sebuah penderitaan sebagai sebuah bagian dari rencana Allah yang optimal, sebuah karya Allah yang terbaik untuk manusia.
Dalam filosofi Kendo, setiap hal harus dilalui dengan terima kasih dan syukur. Untuk setiap kebaikan dan keburukan, terima kasih adalah cara menjalaninya, dengan demikian tidak ada penyesalan yang terjadi dan mengendap dalam hati. Penderitaan terjadi pada setiap manusia, Tuhan mahatahu (omniciens), Tuhan tahu bencana alam Merapi ini akan terjadi. Sekarang adalah giliran manusia untuk berkehendak atas dirinya sendiri dan orang lain. Kehendak para korban untuk memperbaiki hidup, dan kehendak kita sebagai relawan untuk memperbaiki hidup para korban. Diiringi doa kita dapat meminta bantuan kepada Tuhan yang maha-kehendak (omnivolens) untuk mewujudkan intensi kita.
Di luar sana banyak orang yang merasa kasihan, tapi saya percaya kalau mereka para korban masih dapat berdiri tegak menjalani hidup. Dan kami merasa bangga untuk tidak hanya merasa kasihan namun dengan nyata mengusahakan kuliah dan kerja pengabdian masyarakat ini. Saya ingin mengajak para korban dan semua orang umumnya untuk melihat bahwa kebahagiaan itu dapat diraih saat ini juga, meskipun mungkin kita baru saja ditimpa bencana. Saya berkata seperti ini karena saya pernah membaca bahwa ‘masa depan’ adalah konsep yang absurd dan hipotesis. ‘masa sekarang’ adalah riil, nyata. Yang sudah lewat tidak bisa diapa-apakan lagi, yang akan datang belum bisa diapa-apakan. Apa yang kita lakukan saat ini akan mengubah inklinasi pada masa datang. Jadi berbahagialah hari ini, untuk selanjutnya kita berbahagia selama-lamanya.
Dalam pengerjaan rumah sederhana ini kami ditemani 4 orang tukang, koordinator lapangan dan mandor yang memimpin pengerjaan. Meskipun kami mendapatkan bimbingan untuk tidak perlu terburu-buru mengerjakan pembangunan ini, namun para tukang tidak kalah giat membongkar tanah, membuat pondasi dan menyusun batako-batako untuk dinding rumah. Matahari yang sedemikian terik pun mungkin keheranan dengan semangat para tukang. Kami jadi ketularan semangat memacu setiap rumah yang kami kerjakan. Setiap rumah dengan nyaris sempurna kami kerjakan hanya dalam waktu kurang lebih satu minggu. Semangat yang kian meng-klimaks itu akhirnya sempat dipatahkan oleh statement satu pihak yang menyebutkan bahwa kami tidak bekerja sepenuh hati. Mengecewakan memang, namun hal itu cepat berlalu. Kami anggap itu hanya statement yang tertulis di pasir pantai –cepat terhapus oleh ombak.
Saya menemui banyak personalitas baru dalam perjalanan KKN ini. Ada seorang tukang yang aneh cara bicaranya, saya rasa ia tidak mendapatkan pendidikan pengetahuan dan moral yang cukup, hingga kini ia sudah dewasa. Namun semangatnya untuk bekerja secara halal sebagai tukang sempat mengecilkan saya yang bahkan sampai sekarang belum dapat menghasilkan uang sendiri.
Ada pemilik rumah yang (untungnya) bisa memahami saya dan seringnya hanya dengan saya ia bicara dengan bahasa Indonesia. Saya adalah orang yang lahir di Jawa yang tidak mengenal bahasa jawa. Namun ketika kami berpindah ke rumah yang kedua, pemilik rumah sepertinya kesusahan berbahasa Indonesia, saya dan Ibu itu pun jadi kesusahan berkomunikasi. Ketika saya berbicara, beliau hanya tersenyum. Ketika beliau berbicara saya hanya menyeringai. Dari sini dapat dilihat bahwa pemahaman suatu bahasa memang bisa menyatukan. Tapi jujur saja saya masih berkeras kepala untuk tidak mempelajari bahasa ini.
Kalau berbicara mengenai kelompok saya, kami berasal dari latar belakang yang berbeda. Yang berkesan adalah seorang gadis satu-satunya dalam kelompok ini. Dia adalah orang paling ‘nyaring’ dalam 45 peserta KKN, bahkan mungkin yang paling ribut dalam 20an tahun hidup saya. Tidak pernah saya temui jenis manusia seperti ini, sebenarnya setiap harinya saya tidak bisa tenang, rasanya seperti mendengarkan lagu dari pagi sampai sore, dan terkadang lagunya berulang keesokan harinya. Saya jadi ingin tertawa saat menulis hal ini. Saya yakin dia masih waras, dia juga baik dan mau bekerja sama, sama seperti anggota kelompok lainnya yang juga peka dan pekerja keras. Saya beruntung mendapatkan orang-orang ini dalam kelompok saya, yang mendampingi saya yang aslinya adalah manusia anti-sosial dan kerjaan setiap harinya adalah nonton film kartun, yang cuma bisa bicara di dunia maya, yang jarang menulis dengan ballpoint di atas kertas. Kelompok kami (kelompok 6) juga selalu bekerja sama dengan kelompok 5 yang dipasangkan dengan kami. Mereka juga memiliki anggota yang unik-unik. Saya menyadari kalau frekuensi saya berbeda dengan kesembilan orang ini, sampai akhir KKN ini pun sebenarnya saya masih merasakan perbedaan frekuensi itu tadi. Rasanya seperti saya adalah entitas di luar diagram venn. Tapi jawaban saya cenderung positif untuk tidak menyamakan frekuensi itu karena perbedaan dimaksudkan memang untuk membedakan, dan seperti “bhinneka tunggal ika”, tidak perlu sama pun kita bisa bersatu.
Meskipun konflik dikatakan sebagai hal yang wajar dalam KKN, namun saya tetap menyayangkan hal ini. Saya pribadi yang pasif dan lebih suka menonton dan diam menyimak ketika mereka menumpuk keributan dan membuat konflik semakin besar. Saya melihat konflik ini terjadi karena adanya perbedaan kebijakan setiap kelompok. Karena terkotak-kotak maka psikologi kotak-kotak ini semakin menjadikan yang kotak semakin kotak. Manusia itu gampang terhasut, dan juga manusia suka menghasut. Saat hasutan terjadi dalam kekotakan, perbedaan antar kotak yang satu dan lain menjadi susah untuk dicairkan. Teori konflik ada banyak dan manajemen konflik juga sama banyaknya. Sebenarnya saya yang bukan bagian dari mereka yang merasa paling benar yang harus menggunakan metode manajemen konflik ini untuk mendamaikan mereka, tapi mungkin sebelumnya saya harus belajar bicara dulu. Mudah memang kalau ke-45 orang peserta adalah cloning-an diri saya, tidak akan terjadi konflik semacam ini. Tapi ada seseorang yang terdengar bijak mengatakan bahwa “sedikit konflik itu baik adanya.” – ya sudah kalau begitu.
Karena cuaca yang tidak menyenangkan – panas terik di siang hari dan hujan badai diikuti kabut tebal di sore hari, memasuki minggu ke 4 cuaca yg tidak bosan menyusahkan hal ini memaksa saya untuk tidak ‘merumput’ di lokasi KKN dan harus beristirahat selama 2 hari atas perintah dokter yang memvonis saya sakit demam dan komplikasi lainnya. Meskipun pada awalnya saya sudah yakin bakal kuat, toh akhirnya rontok juga. Ternyata sakit itu memang tidak enak, saya penasaran bagaimana kondisi kesehatan korban-korban di barak pengungsian, yang tempatnya mungkin saja lebih tidak nyaman lagi.
Pada akhirnya, semiris-mirisnya kondisi lokasi atau apa saja halangan yang pernah diulas dalam briefing awal, atau hal-hal yang lebih menakutkan yang tercipta dari pikiran kreatif ini ternyata itu tidak terjadi. Medan masih dapat ditaklukkan, orang-orangnya tetap sopan dan tidak terlihat seperti mental peminta-minta, makanan tersedia lebih dari cukup, material dan kesiapan terlihat di lokasi, pemilik rumah ramah dan bekerja sama. KKN ini saya anggap menyenangkan, suatu pengalaman berharga meskipun fisik terbakar teriknya matahari, sempat sakit ataupun ada ketegangan antar kelompok, sampai-sampai hampir terjadi kecelakaan saat menuju dan pulang dari lokasi KKN. Sebuah cerita yang dapat dibanggakan yang bisa dibagikan ke orang-orang lain.
Sekedar cerita, saat acara perpisahan ada yang menangis. Padahal tidak ada yang akan pergi keluar kota atau apalah, dunia ini sempit lho, aku sampai bertemu teman dari temanku di Manado. Siddhartha Gautama: “Tatkala kita menikmati kegembiraan saat berkumpul, kita telah menanamkan buah duka perpisahan. Bila kau bisa memahami, bahwa di dunia ini berkumpul dan berpisah itu hanyalah bersifat sementara, maka tak akan merasa sedih lagi.” Mungkin peserta KKN sudah sedemikian dekatnya sampai buah duka perpisahan yang mereka tanam berlipat ganda. Hal seperti ini, orang-orang terkadang menyebutnya cinta.
“Ternyata manusia akan mengalami ketuaan dan kesakitan. Bagaimana mungkin aku menyia-nyiakan jiwa yang begitu singkat dengan hura-hura? Aku harus berusaha meninggalkan lumpur duka ini untuk menolong mereka yang tenggelam di dalamnya” – Siddhartha Gautama
Manusia senantiasa bertemu dengan kemalangan. Saya dan kita diberi kesempatan untuk menjadi relawan dalam tanggap bencana Merapi. Melalui kesempatan ini hendaknya kita merenungkan esensinya, yaitu dengan berbuat ikhlas menolong sesama (meninggalkan lumpur duka ini untuk menolong mereka yang tenggelam di dalamnya). Hati yang ikhlas adalah harta yang paling berharga untuk kemanusiaan, sebuah kebutuhan yang esensial bagi perkembangan spiritual manusia.
Terlepas dari bagaimana saya tidak dapat memahami sepenuhnya tentang kearifan masyarakat melihat sosok Merapi, bagaimana mereka mau saja bertahan di tengah bahaya, atau mengapa terjadi semacam ‘pengabdian ekstra’ kepada sosok Merapi ini, tapi para korban bencana ini juga adalah sama seperti saya, manusia. Melalui KKN Peduli Bencana merapi ini, Allah menunjukkan cintaNya kepada para korban melalui LPPM, SKM, dan stakeholder serta segenap peserta KKN untuk memeluk mereka yang membutuhkan. Semoga lewat pengabdian selama 28 hari ini para sahabat kami ini dapat menikmati hidup yang lebih baik di tempat tinggal mereka yang baru yang dibuat bersama dengan penuh cinta ini.



